Berawal dari viralnya video sang anak usia SD yang harus rela berangkat ke sekolah melalui sungai akibat sengketa lahan yang dialaminya, kini permasalahan Juladi warga RT 7/ RW 1, Kelurahan Bendan Ngisor, Kota Semarang bertambah, yakni penolakan warga terhadap kehadiran Juladi dan keluarganya di lingkungan wilayah tersebut.
Dikutip dari laman radar.semarang.com pada Selasa (5/8/2025), sebuah spanduk berisikan penolakan terhadap kehadiran Juladi terpasang di pagar dekat rumah Juladi dan rumah Sri Rejeki sang pemilik lahan yang bersengketa dengan Juladi.
“Warga RT 07/ RW 01 Kelurahan Bendan Ngisor Menolak Warga Atas Nama Juladi Boga Siagian. Warga Menghimbau Untuk Yang Bersangkutan Dapat Segera Pindah Dari RT 07/ RW 01 Bendan Ngisor.” Tertulis dalam spanduk berwarna kuning.
Diketahui, sebanyak 22 warga juga menandatangani petisi terkait penolakan tersebut, terdapat tiga poin dalam surat penolakan tersebut yakni terkait perilaku Juladi yang menimbulkan polusi udara (bau) dan menimbun sampah di sekitaran dia tinggal, ketika ditegur Juladi tak mau tahu dan justru marah- marah.
Kedua, warga menilai Juladi membiarkan semua anjing yang dimilikinya berkeliaran di area kampung dan memangsa hewan peliharaan warga sekitar. Sudah diingatkan beberapa kali dan masih bersikap acuh.
Ketiga, Juladi juga dinilai tak pernah mengikuti kegiatan warga seperti kerja bakti, melayat, dan sosialisasi.
Menurut Ketua RT 7 yakni Sugito, petisi tersebut merupakan kehendak warga dan kemauan warga untuk memasang spanduk.
Juladi juga sangat terkejut atas pemasangan spanduk tersebut yang seolah memprovokasi warga, spanduk tersebut baru ia ketahui melalui postingan Facebook.
Ditanya oleh Radar Semarang tentang tiga poin petisi penolakan atas kehadiran dirinya dan keluarganya Juliadi mengatakan, soal menjemur barang, itu bukan sampah melainkan kertas basah yang ia jemur untuk dikeringkan dan kemudian setelah kering dibersihkan kembali.
Untuk masalah anjing, Juladi mengaku setiap dilepaskan, anjing selalu dalam pengawasan.
Dan untuk masalah warga yang meminta dirinya untuk pindah, ia meminta mereka agar dicarikan solusi harus berpindah kemana, karena dia dan keluarganya tidak memiliki tempat tinggal lain.
Istri Juladi, yakni Imelda juga menyampaikan permintaan perlindungan kepada negara dan kekhawatirannya jika warga berlaku anarkis usai adanya spanduk tersebut, ia takut keluarganya mendapat perlakuan buruk.