Banjir yang terjadi belakangan selama periode bulan Februari hingga Maret 2024 yang menimpa sebagian wilayah di jalur pantai utara seperti Semarang, Demak, Jepara dan Kudus, dikaitkan dengan rumor isyarat kembalinya Selat Muria. Lantas seperti apa Selat Muria yang santer dibahas selama seminggu belakangan ini?
Selat Muria adalah wilayah perairan yang dulu memisahkan antara Gunung Muria dengan pulau jawa hingga sekira abad ke- 16, selat ini merupakan jalur perdagangan dan transportasi yang ramai. Menurut Ali Romdhoni dalam Kesultanan Demak Bintara (2021), Selat Muria adalah wilayah perairan yang memisahkan pulau vulkanik Gunung Muria dengan Pegunungan Kendeng di Pulau Jawa.
Selat ini memanjang dari arah timur ke barat, akibat sedimentasi yang masif terbentuklah daratan pada abad ke- 17 yang kini menjadi wilayah Kabupaten Demak, Kudus, Pati, Rembang dan sebagian wilayah Semarang bagian bawah. Selat ini menjelaskan bahwa dulunya Jepara adalah wilayah yang terpisah dari pulau Jawa.
Selat Muria juga dikenal sebagai Selat Gangga, kerajaan islam di Jawa memanfaatkan selat ini sebagai jalur pelayaran menurut Suparman Al Fakir dalam Lajer Glagahwangi (2023). Banyak pelabuhan - pelabuhan yang dibangun di sepanjang Selat ini untuk mempermudah perdagangan.
Selat ini merupakan wilayah pasang surut, inilah mengapa Selat Muria mengalami sedimentasi masif seiring pergantian musim selama bertahun- tahun hingga berabad- abad. Memasuki abad ke- 16 Selat Muria, sudah tak lagi menjadi jalur transportasi air karena pendangkalan yang terjadi, hingga akhirnya wilayah yang mengalami pendangkalan dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk area persawahan dan pemukiman hingga kini.
Maka tak mengherankan ketika banyak netizen yang mengaitkan banjir yang terjadi di Demak dan sekitarnya dengan keberadaan Selat Muria, namun perlu disadari bahwa banjir yang terjadi tidak hanya terkait dengan historis Selat Muria, mengutip dari Antara, banjir yang terjadi di sekitar Pantura setiap tahun dikarenakan banyak faktor, seperti kurangnya wilayah resapan air, tanggul jebol aliran sungai yang tersumbat sampah hingga curah hujan tinggi di musim penghujan.
Informasi ini seyogyanya digunakan sebagai bekal para pembaca untuk lebih mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi guna mengantisipasi kerugian material maupun nonmaterial terlepas dari rumor kembalinya Selat Muria yang dulu ada.