Jika anda kerap melewati jalan Cendrawasih, Kota Lama Semarang, maka anda pasti melihat sebuah bangunan bergaya arsitektur Belanda dengan dua patung semut merah berukuran raksasa berdiri kokoh di kawasan tersebut.
Yup, gedung Marabunta, meski dulu nampak mencekam dan tak terawat, kini gedung tersebut telah direnovasi sedemikian rupa dan menjadi salah satu cafe/resto hits di Kota Semarang, cafe/resto ini sering menyuguhkan pertunjukan seni, live music yang menarik hati pelanggannya.
Dahulu gedung ini dikenal dengan nama Gedung Schouwburg, menurut ahli arkeolog balai Arkeologi, gedung ini didirikan sejalan dengan pengembangan kawasan permukiman di Kota Semarang dan Jalan Pos Daendels.
Tujuan awal pembangunan gedung ini adalah sebagai tempat hiburan bagi penghuni kawasan Kota Lama Semarang yang dahulu dihuni oleh warga Eropa. Kemungkinan gedung ini berdiri pada tahun 1854 berdasarkan prasasti yang ada di lokasi.
Ada cerita santer terkait seorang penari erotis legendaris bernama Mata Hari, yang harus dieksekusi mati oleh regu tembak Perancis karena dianggap sebagai mata- mata Perang Dunia.
Terlahir dengan nama Margaretha Geertruida Zelle di Leeuwarden, Belanda pada 7 Agustus 1876, Mata Hari menikah pada usia 19 tahun dengan perwira militer Belanda, Rudolf Macleod yang berusia 21 tahun lebih tua darinya.
Setelah 9 tahun pernikahannya Mata Hari bercerai kemudian menjadi penari erotis dan terlibat dalam dunia prostitusi, ia juga terlibat dalam spionase selama Perang Dunia 1, di masa kejayaannya konon Mata Hari pernah memeriahkan panggung Stadsschouwburg namun faktanya tidak.
Banyak sejarawan Semarang yang menampik cerita tersebut, salah satunya ahli cagar budaya dan pegiat sejarah Semarang, Tjahjono Rahardjo, menurutnya Mata Hari memang pernah menyambangi kota Semarang pada tahun 1800-an sebagai istri Macleod dan belum berstatus penari, usai kembali ke Belanda dan tak berselang lama bercerai, Margareth tidak pernah menginjakan kakinya lagi di tanah Jawa.