Alas Roban merupakan kawasan hutan yang berada di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Jalur tersebut mulai dikenal setelah dibangunnya jalan pos pada masa penjajahan Belanda yang diciptakan oleh Herman Willem Daendels.
Alas Roban juga sering disebut Poncowati yang konon merupakan salah satu Jalur Tengkorak di Jawa Tengah. Hal ini karena, sebelum menjadi jalan raya kawasan tersebut adalah hutan belantara.
Alas Roban memiliki Jalanan yang curam dan berkelok. Selain itu, tempat ini terlihat seram dengan adanya pohon-pohon tinggi dan besar pada sisi kanan kirinya di sepanjang jalan.
Alas Roban sebagai hutan belantara yang menjadi jalur alternatif dibelah untuk dijadikan jalan raya yang terdiri menjadi tiga jalur, yaitu Jalan Poncowati (jalan lama), Jalan Lingkar Selatan, dan Jalan Pantura.
Pada jalur utama biasanya dilewati truk-truk besar bermuatan atau truk gandeng dan bus, sementara jalur selatan dilewati truk biasa, sedangkan jalur utara dilewati kendaraan pribadi baik mobil ataupun roda dua.
Alas Roban selain luas dan panjang memang dikenal karena medannya yang sulit. Jalurnya memang dibuat mengikuti kontur hutan. Sehingga punya banyak tanjakan dan tikungan tajam.
Minimnya penerangan juga membuat banyak belokan dan tanjakan curam rawan kecelakaan di kawasan tersebut.
Alas roban semakin terkenal berbahaya lantaran penerangan jalannya belum terlalu banyak. Hanya ada beberapa lampu yang muncul di beberapa titik. Sehingga jika melewati kawasan tersebut di malam hari akan membuat bulu kuduk merinding.
Alas Roban telah lama dikenal punya sejarah panjang. Konon, banyak cerita mistis yang membayangi alas roban sejak dulu. Bahkan, kawasan ini terkenal sebagai tempat pembuangan mayat.
Terdapat beberapa cerita yang menjadikan Alas Roban dikenal mistis salah satunya akibat adanya peristiwa pembantaian massal (kerja paksa pada masa pemerintahan Daendels).
Jalur Alas Roban jadi salah satu Jalan Raya Pos yang menjadi mega proyek Daendels pada waktu itu. Konon banyak pekerja yang mati dan jenazahnya dikubur di kawasan tersebut.
Keangkeran Jalur Alas Roban semakin diyakini masyarakat, setelah digunakan sebagai tempat pembuangan jenazah korban penembak misterius (petrus) sekitar tahun 1980 an.
Selain itu, jalur Alas Roban juga sering memakan korban kecelakaan yang dialami para pengemudi. Sehingga makin memperkuat kemistisannya.
Tak jarang banyak sopir yang enggan berhenti jika melewatinya. Kini, kondisi Alas Roban sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Upaya membangun jalur alternatif dan memperbaiki kondisi jalan serta perawatan membuat kawasan tersebut terlihat aman dan nyaman untuk dilewati.
Pengendara menghindari jalur lama. Namun, jalur tradisional Alas Roban tetap digunakan banyak kendaraan, terutama kendaraan kecil dan sepeda motor atau pengendara yang sengaja melintas untuk bernostalgia di jalur lama yang penuh kenangan.
Dibalik cerita dan suasana Alas Roban yang dikenal menakutkan dan angker, terdapat aktivitas di sekitar sebagai tempat lapak pedagang yang berjualan di pinggir jalan.
Mereka menggunakan gubukan sebagai tempat berjualan mulai dari makanan dan minuman. Menariknya, Alas Roban juga dikenal punya buah khas yang tumbuh di hutan sana, yaitu pisang tanduk.
Buahnya terkenal manis, punya ukuran yang besar dan panjang seperti tanduk kerbau.