Peristiwa pertempuran lima hari di Semarang merupakan salah satu peristiwa hebat dan bersejarah melawan penjajah yang tak akan pernah bisa dilupakan. Meski sudah lama insiden itu terjadi, yakni tanggal 14-19 Oktober 1945. Sejarah akan tetap mencatatnya sebagai salah satu perjuangan heroik pasca-Kemerdekaan khususnya bagi warga Semarang.
Tak lupa peristiwa tersebut juga melibatkan para tokoh penting yang terjun langsung ke medan perang demi membela dan merebut kemerdekaan.
Selain banyak tokoh penting yang terlibat, sejarah juga membahas mengenai bangunan-bangunan yang menjadi saksi bisu pertempuran lima hari di Semarang yang menyimpan jejak peristiwa heroik tersebut.
Berikut bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu pertempuran lima hari di Semarang yang telah kami rangkum dari berbagai sumber.
1. Tugu Muda
Monumen ini merupakan salah satu bangunan ikonik dan populer karena berhubungan dengan peristiwa pertempuran lima hari di Semarang. Di balik pesonanya, Tugu Muda didirikan sebagai simbol untuk mengenang perjuangan masyarakat Semarang.

Peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1945 oleh Gubernur Jawa Tengah yaitu KRMT Wongsonegoro. Bentuknya yang unik menyerupai obor atau lilin dengan api menyala di puncak melambangkan semangat yang tak pernah padam.
Bagian tugu utamanya yang menjulang setinggi 17 meter, melambangkan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus. Selain itu, terdapat hiasan 12 relief yang merepresentasikan momen-momen penting selama Pertempuran Lima Hari Semarang.
Tugu muda terletak di pusat kota, tepatnya di Jalan Pandanaran, Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Saat melewatinya, di sekeliling tugu terdapat taman yang indah dan bersih, sehingga sering digunakan untuk tempat berkumpul dan bersantai. Di sekitar lokasi Tugu Muda juga berdiri gedung pemerintahan, wisata Lawang Sewu, dan Museum Mandala Bhakti.
2. Bodjong Weg
Bodjong Weg atau sekarang dikenal jalan pemuda adalah salah satu jalan yang populer. Sejarah mencatat bahwa kawasan ini dulunya merupakan markas utama untuk membahas rencana perlawanan kepada pihak Jepang.

Nama "Bodjong" resmi diganti menjadi "Jalan Pemuda" pada tahun 1955. Kini, Bodjong Weg bertransformasi menjadi kawasan kuliner dan bisnis serta pusat pemerintahan.
Jalan Pemuda membentang dari ujung Kota Lama (mulai Jembatan Mberok) sampai ke Tugu Muda. Konon, di masa kolonial Belanda, Jalan Pemuda dinamakan Bodjong weg. Kata Bodjong berasal dari dua kata, yaitu Bod yang berarti “Kapal” dan Jong yang berarti “Pemuda”.
3. Reservoir Siranda
Reservoir Siranda adalah bangunan peninggalan Hindia Belanda yang keberadaannya masih berfungsi hingga kini. Berlokasi di atas bukit Jalan Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Dari jauh, tampak bangunan tersebut seperti gundukan tanah dan terdapat gerbang yang menjulang tinggi di depannya. Bagi yang belum tahu, bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat penampungan air.

Reservoir Siranda menjadi salah satu bangunan historis, karena menjadi cikal bakal meletusnya Pertempuran Lima Hari di Semarang. Saat itu, berita yang tersebar adalah bawah tempat penampungan air tersebut diduga diracuni oleh tentara Jepang.
Kala itu pertempuran semakin mencekam dengan adanya berita meninggalnya dr. Kariadi saat beliau ingin memeriksa saluran air di Siranda.
Meski fungsinya tak seperti dulu yaitu distribusi utama air warga Semarang. Tetapi keberadaannya masih digunakan sebagai cadangan (bukan untuk distribusi air harian).
Keberadaan reservoir ini, tentu tak bisa dilupakan sejarah sebagai salah satu saksi bisu pertempuran lima hari di Semarang. Apalagi melihat fungsinya di jaman dulu yang membantu dalam memenuhi pasokan air bersih masyarakat.
Reservoir Siranda didirikan pada tahun 1912 dan menjadi salah satu sumber air yang digunakan warga untuk mendistribusikannya ke beberapa wilayah di Semarang, mulai dari Simpang Lima, Kota Lama, dan pelabuhan lama.
Bangunannya yang awet dan masih dimanfaatkan hingga kini, tentu membuat Reservoir Siranda tak lepas dari nilai sejarah dan fungsinya. Sehingga menjadikannya situs bersejarah yang tetap dijaga dan dirawat.
Bangunan-bangunan tersebut telah menjadi bukti nyata perjalanan bangsa di masa lalu hingga menjadi bangsa seperti sekarang. Suka duka dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan telah membuat kita paham, bahwa nilai-nilai patriotisme harus dilalui bangsa Indonesia demi sebuah kedaulatan.