Semarang kaline banjir, adalah sebuah ikon kultural dari sebuah lirik lagu berjudul “Jangkrik Genggong” yang dipopulerkan oleh Waljinah pada tahun 1960-an. Namun ini bukan hanya sekedar lirik, bukan sekedar lagu.
Nyatanya kota Semarang tercinta, memang masih sering dilanda banjir, sebuah kenyataan pahit yang mau tidak mau dijalani oleh warga Semarang, bertahun- tahun hingga tahun ini 2026.
Terbaru, sungai Banjir Kanal Barat, yang digadang sebagai solusi pengendali banjir di Kota Semarang, meluap hingga membanjiri jalanan dan pemukiman warga.
Banjir menggenangi jalan Simongan, jalan Kelud Raya, hingga jalan Madukoro Raya depan The Park Mall. Salah satu akun instagram yang mengunggah video terkait banjir pada hari Sabtu (14/3/2026) tersebut yakni @kejadiansmg.
“Banjir Kanal Barat Meluber, Simongan dan Kelud Raya tergenang banjir,” tulis akun @kejadiansmg dikutip pada hari Senin (16/3/2026).
Diduga terjadinya luapan di Banjir Kanal Barat yang seharusnya menjadi pengendali banjir ini dikarenakan adanya sedimentasi atau pendangkalan. Video terkait kondisi sebelum banjir di wilayah tersebut memperlihatkan dengan jelas adanya pendangkalan yang diduga menjadi sebab meluapnya air ke jalanan dan pemukiman warga.
Video ini diunggah oleh akun instagram @semarangskyject pada hari Minggu (15/3/2026). Dalam unggahannya, mereka meminta pemerintah untuk lebih totalitas dalam mengatasi hal tersebut.
“BKB, Banjir Kanal Barat Semarang. Infrastruktur pengendali banjir malah bikin banjir, efek sedimentasi menahun yang tak rutin dikeruk. Mohon kepada pemerintah/dinas terkait khususnya @kementerianpu @pu_sda_pemalijuana untuk lebih bekerja keras totalitas dalam mengatasi hal ini, termasuk sedimentasi di BKT, Banjir Kanal Timur Semarang.
Semoga persoalan ini segera mendapatkan atensi dari pemerintah kota Semarang, pasalnya Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur merupakan infrastruktur vital, apabila infrastruktur tersebut tak berfungsi dengan baik, maka lagi- lagi masyarakat yang menjadi korban.
BKB yang digadang jadi solusi, kini malah membuat was-was, dulur yang tinggal di wilayah Simongan, Kelud dan Madukoro, seberapa tinggi air masuk kemarin?