Kerajaan Kalingga adalah kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Tengah yang diperkirakan berdiri sejak abad ke -6 Masehi, kerajaan ini berpusat di sekitar Jepara dan Pekalongan. Kerajaan ini didirikan oleh orang pelarian dari India setelah kerajaan di negaranya dihancurkan, masyarakatnya menganut agama Hindu dan Buddha.
Kerajaan Kalingga yang mencakup wilayah kekuasaan dari Blora, Purwodadi, Salatiga, Jepara dan Pekalongan mencapai puncak kejayaan dibawah pemerintahan Ratu Shima. Kerajaan Kalingga di bawah kepemimpinannya dikenal maju dalam perdagangan, pertanian dan memiliki struktur pemerintahan yang terorganisir dengan baik.
Ratu Shima atau Shima putri Hyang Syailendra putra Santanu adalah putri dari seorang pemuka agama Hindu-Syiwa yang lahir sekitar tahun 611 M di sekitar wilayah yang disebut Keling Jepara.
Ratu Shima melangsungkan pernikahan dengan Raja Kartikeyasingha, Raja Kirathasingha yang menjabat pada 632-648 M dan menjadi permaisurinya.
Raja Kartikeyasingha sendiri merupakan anak dari Ibunda yang berasal dari Kerajaan Melayu Sribuja yang terikat kekerabatan dengan Kalingga. Dari pernikahannya Ratu Shima dikaruniai dua anak, yakni Dewi Parwati dan Narayana (Iswara).
Sepeninggalnya Raja Kartikeyashingha, Ratu Shima naik tahta untuk menggantikan suaminya karena pada saat itu kedua anaknya masih sangat kecil.
Dengan gaya kepemimpinannya yang tegas dan adil, kerajaan Kalingga mampu mencapai puncak kejayaan. Bahkan konon keadilan Ratu Shima tak pandang bulu, diceritakan dahulu sang putra Mahkota Kerajaan Kalingga nyaris dijatuhi hukuman mati oleh sang Ratu karena berani menyentuh sebuah kantong berisi emas yang dimiliki oleh Ratu Shima.
Beruntung, atas usul Dewan Menteri Kerajaan, sang putra Mahkota lolos dari hukuman mati, namun sebagai gantinya, Ratu Shima menjatuhi hukuman potong kaki karena bagian tersebut yang menyentuh kantong emas tersebut.
Kepercayaan dan kepatuhan masyarakat terhadap Ratu Shima bukan sekedar karena beliau pemimpinnya, namun karena keadilan dan ketegasan beliau yang tak pandang bulu. Hal ini menjadikan rakyat Kerajaan Kalingga menjadi jujur dan senantiasa memihak pada kebenaran.
Dari sosok Ratu Shima, kita dapat mempelajari bahwa kepercayaan tidak dibangun dari sebuah kenyamanan, kepercayaan dibentuk dari konsistensi atas perilaku yang berdasarkan pada kejujuran dan keadilan. Bahwa penghormatan tidak datang ketika kita meminta tapi diberikan kepada kita berdasarkan perilaku dan nilai yang kita bawa dalam diri.
Selain Ratu Shima masih ada beberapa sosok perempuan berpengaruh lainnya di Nusantara, kita bahas Minggu depan ya!